(navigation image)
Home American Libraries | Canadian Libraries | Universal Library | Community Texts | Project Gutenberg | Children's Library | Biodiversity Heritage Library | Additional Collections
Search: Advanced Search
Anonymous User (login or join us)
Upload
See other formats

Full text of "ebook tauhid dan jihad_1"

PENGERTIAN 




DAN TUGAS UTAMANYA 



Penulis: 

Syaikh 'Abdul Qoodir bin 'Abdul 'Aziiz 

Penerjemah: 

Abu Musa Ath Thoyyaar 

Akan selalu ada sekelompok dari ummatku yang dzohir 

diatas kebenaran, mereka tidak peduli dengan orang-orang 

yang menyelisihi dan mentelantarkan mereka hingga terjadi 

qiamat. 



Judul Asli : 

Ma'na Thoifah Manshuroh 
Wa Wadhoo-ifatuha 

Penulis : 

Syaikh Abqul Qodir bin Abdul Aziiz 

Edisi Indonesia : 

Pengertian Thoifah Manshuroh 
Dan Tugas-Tugas Utamanya 

Alih Bahasa : 

Abu Musa Ath Thoyyar 

Publikasi : 

Maktab Al Jaami' 



© All Right Reserved 

Silahkan memperbanyak tanpa merubah isi, pergunakanlah 
untuk kepentingan kaum Muslimin 



"Demi Kembalinya seluruh Dien hanya milik Allah Ta'ala" 



Def inisi Thoif ah Manshuroh 



Kebanyakan para Ulama salaf berpendapat bahwa 
Ath Thoitah Al Manshurah adalah para ulama dan ahlul 
hadiits sebagaimana pendapat Al Bukhooriy dan Imam 
Ahmad bin Hambali, akan tetapi ada kerancuan pada 
pendapat mereka karena Rasulullah SAW bersabda : 

...aJlp JjUL 4^J li jj^Jt IJla... 

"... dien ini tegak yang berperang diatasnya.. . " 

Juga riwayat-riwayat yang lainnya yang 
menyebutkan dengan jelas bahwa berperang itu merupakan 
ciri khas Thoitah ini, seperti riwayat Jaabir bin 'Abdulloh, 
Imam bin Hushoin dan Yaziid bin Al Ashom dari 
Mu'aawiyah dan 'Uqbah bin 'Aamir, maka tidak mungkin 
Thoitah ini terdiri dari ulama saja akan tetapi mereka adalah 
Ahlul 'Ilmi (Ulama) dan Ahlul Jihad (Mujahidin) oleh karena 
itu Imam An Nawawiy setelah menyebutkan perkataan 
Imam Al Bukhooriy, Imam Ahmad dan yang lainnya beliau 
berkata: "Dan bisa jadi Thoitah ini terpisah-pisah diberbagai 
macam kalangan orang-orang beriman, diantara mereka ada 
ahli perang yang pemberani, ada para fuqoha, ada para ahli 
hadits, ada orang yang zuhud dalam melaksanakan amar 
ma'ruf nahi munkar, dan ada pula yang ahli dalam berbagai 
macam kebajikan dan tidak harus mereka itu berkumpul 
semuanya akan tetapi tersebar diberbagai penjuru dunia." 
(Sahih Muslim Bisyarh An Nawawi, XIII /67) begitu juga 
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah didalam 
tatwanya yang berkenaan dengan perang melawan orang- 



orang Tartar yang mengucapkan dua kalimat Syahadat 
namun berhukum dengan selain syari'at Islam, beliau 
berpendapat bahwa orang yang berjihad adalah orang-orang 
yang paling berhak masuk dalam kriteria Thoi£ah 
Manshuroh sebagaimana perkataannya: "Sedangkan 
kelompok yang berada di Syam, Mesir dan lainnya mereka 
pada saat ini adalah orang-orang yang berperang melawan 
Dienul Islam dan mereka adalah orang-orang yang paling 
berhak masuk dalam Thoif ah Manshuroh yang disebut oleh 
Nabi SAW didalam haditsnya yang shahih dan masyhur : 

<-Jy^\ \&\ Jjjj V I ^Lmj* AjIjj <jj 4pL*Jt pjJbj J±>- (i-a>A>- 

"Akan selalu ada sekelompok dari ummatku yang dzohir diatas 

kebenaran, mereka tidak peduli dengan orang-orang yang 

menyelisihi dan mentelantarkan mereka hingga terjadi qiamat, dan 

diriwayat Muslim berbunyi :"Akan senantiasa ada ahlul ghorb" 

(orang-orang barat) 

(Majmu' Fatawa, XIII / 531) 

Maka tidak diragukan lagi bahwa 'ulamaa' 'aamiliin 
(Para ulama' yang mengamalkan ilmunya) adalah orang- 
orang yang pertama masuk dalam kelompok ini dan sisanya 
seperti Mujahidin dan yang lainnya mengikuti mereka. 

Dan yang mendorong para salaf untuk mengatakan 
bahwa Thoitah tersebut adalah para ulama, karena tidak ada 
perbedaan pendapat antara kaum muslimin tentang jihad 
kala itu, sedang daerah perbatasan telah dipenuhi dengan 
tentara dan pasukan yang dihadapkan kearah negara-negara 



musuh, dan juga karena yang menjadi perusak dien pada 
zaman itu adalah bid'ah dan kesesatan-kesesatan yang besar 
sehingga orang yang berperang untuk melawan semua itu 
adalah para ulama. 

Sedangkan kita pada hari ini sangat membutuhkan 
kesungguhan para ulama dan Mujahidin yang masing- 
masing berada pada medannya, sesungguhnya dien ini tidak 
akan tegak hanya dengan ilmu saja, namun harus dengan 
keduanya secara bersamaan sebagaimana tirman Alloh 
dalam surat Al Hadiid : 

/^uJl ?yQi otj--<JU OuSJl <i-g-*-* ^j->^j ^^-P^ ulij uL^Ji «Usj 

" Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan 

membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan 
bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia 

dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang 

padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manjaat bagi 

manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya 

Alloh mengetahui siapa yang menolong (agama) Nya dan rasul- 

rasul-Nya padahal Alloh tidak dilihatnya. Sesungguhnya Alloh 

Maha Kuat lagi Maha Perkasa". (QS. Al Hadiid : 25) 

Ibnu Taimiyyah berkata :"Dan sekali-kali tidak akan 
tegak Dien ini kecuali dengan kitab, mizan (timbangan) dan 
besi, kitab sebagai petunjuk dan besi sebagai pembela, 
sebagaimana tirman Alloh:...^^j lil^ji -^ " Sesungguhnya 
Kami telah mengutus rasul-rasul Kami..." . Maka dengan kitab 
akan tegak ilmu dan dien, dengan mizan (neraca) akan tegak 



hak-hak dan transaksi serta serah terima keuangan dan 
dengan besi akan tegak hukum huduud." (Majmu' Fatawa, 
XXXV/361). Juga berkata : "dan pedang-pedang kaum 
muslimin sebagai pembela syari'at yang berupa Al Kitab dan 
As Sunnah" sebagaimana yang dikatakan oleh Jaabir bin 
'Abdulloh: "Kami diperintahkan oleh Rasulullah untuk 
memukul dengan ini, yaitu pedang, orang-orang yang keluar 
dari ini, yaitu Al Qur'an" (Majmu' Fatawa, XX V/ 365) 

Beliau berkata : "Sesungguhnya tegaknya dien itu 
dengan kitab yang menjadi petunjuk dan besi yang menjadi 
pembela, sebagaimana yang disebutkan oleh Alloh SWT". 
(Majmu' Fatawa, XXVIII/396 dan seterusnya). 

Saya katakan :"Dengan demikian dapat dikatakan 
bahwa Thoifah Manshuroh adalah Thoijah Mujaahidah 
(kelompok yang berjihad) yang mengikuti Manhaj Syar'i 
yang lurus yaitu Manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. 



CATATAN : APAKAH FIRQOH NAJIYAH ITU THOIFAH 

MANSHUROH ? 



Kebanyakan kitab Aqidah menyebutkan bahwa 
Firqoh Najiyah (ahlus sunnah wal jama'ah) itu adalah 
Thoifah Manshuroh (sebagai contoh lihat bab akhir dalam 
Al 'Aqiidah Al Waasithiyyah, karangan Ibnu Taimiyyah, 
begitu juga Muqaddimah Kitab Ma'aarijul Qobuul 
karangan Haa£idh Hakamiy dll), dan yang rojih menurut 
saya adalah Firqoh dan Thoitah itu tidak sama, 
sesungguhnya Thoitah adalah bagian dari Firqoh, maka 
Thoifah Manshuroh adalah bagian dari Firqoh Najiyah 
yang melakukan pembelaan terhadap Dien dengan ilmu dan 
jihad, yang itu berada pada manhaj dan aqidah yang sahih. 
Berdasarkan hal itu kami katakan bahwa seorang Mujaddid 
(pembaharu) itu adalah salah satu personal dalam Thoifah 
Manshuroh yang menegakkan kewajiban-kewajiban yang 
paling penting pada zamannya, berdasarkan pendapat 
jumhur (mayoritas) ulama yang berpendapat bahwa 
mujaddid itu adalah satu orang, dalil dari pendapat ini 
adalah : 

1. Firman Alloh Ta'ala : 

jjjJl J \j+alZi 2iiU? °^L> Xi°Ji *J> Ij* ^ VJi* 

"Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara 

mereka beberapa orang untuk memperdalam 

pengetahuan mereka tentang agama" 

(QS. At Taubah : 122) 



Ayat ini membedakan antara Firqoh dan Thoitah 
dan menjelaskan bahwa Thoitah adalah satu 
bagian yang menuntut ilmu dan berjihad dari 
kalangan Firqoh sebagaimana yang disebutkan 
dalam tatsiran ayat ini (lihat Ibnu Katsiir). 

2. Ilmu dan jihad keduanya adalah sifat Thoifah 
Manshuroh yang paling utama, asalnya keduanya 
adalah tardhu kitayah wajib bagi sebagian orang 
dan bukan kewajiban semua ummat Islam untuk 
melaksanakan keduanya, dan kelompok yang 
berilmu dan berjihad dari ummat inilah yang 
dimaksud Thoif ah Manshuroh. 

3. Perkataan Imam-imam hadits seperti Al Bukhari 
dan Ahmad yang menyebutkan bahwa Thoitah itu 
adalah ahlul hadiits atau ahlul ilmi, sebagaimana 
Al Bukhooriy membuat sendiri dalam kitab Al 
1'tisham dalam shohihnya., ia mengisyaratkan 
adanya perbedaan karena tidak setiap ahlus sunnah 
(Firqoh Najiyah) itu adalah ahlul hadiits. 
Sedangkan apa yang dinukil oleh Imam An 
Nawawiy tentang Thoitah ini : "Imam Ahmad 
berkata : Kalau bukan ahlul hadiits maka aku 
tidak tahu siapa lagi mereka. Qoodhiy Tyaadl 
berkata: Sesungguhnya yang dimaksud oleh Imam 
Ahmad adalah ahlus sunah wal jama'ah dan siapa 
saja yang meyakini madzhab ahlul hadiits." Maka 
perkataan Qoodhiy Tyaadl: Sesungguhnya ahlul 
hadiits adalah semua ahlus sunnah, itu tidak lurus 
kecuali kalau yang dimaksud adalah sebagai 
pengikut. Inilah yang tersirat dalam perkataannya 
(dan siapa saja yang meyakini madzhab ahlul 



8 



hadiits), karena sesungguhnya orang awam 
seharusnya mengikuti ulama, dan sesungguhnya 
ulama termasuk ulil amri yang disebutkan dalam 
tirman Alloh Ta'ala : 

d&A jN\ sh Syty !A^j ^ \£$ 

" ...taatilah Alloh dan ta^atilah Rasul (Nya), dan ulil 
amri di antara kamu ..." 

(QS. An Nisaa' : 59) 

Dan yang lebih jelas lagi dalam tirman Alloh 
Ta'ala : 

<yj\ UiJ ^ yH\ Jjt jj$ J^jJl Jj ijij jjj 

" ...Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul 
dan Ulil Amri diantara mereka, tentulah orang-orang 

yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) 

mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri)..." 

(QS. An Nisaa' : 83) 

Dalam ayat ini Alloh Ta'ala menamakan Ulama 
(orang-orang yang mengambil istimbaath) dengan 
sebuatan ulil amri, ini adalah nash yang 
menunjukkan bahwa ulama adalah ulil amri, dan 
ayat ini juga mengisyaratkan akan wajibnya 
menjadikan mereka sebagai pemimpin 
sebagaimana isyarat tersebut — juga — terdapat 
dalam hadits tentang qobdhul ilmu (dicabutnya 
ilmu). Maka orang-orang awam adalah pengikut 
ulama. Alloh Ta'ala bertirman : 



A 4, j, o, 

" (Ingatlah) suatu hari (yang di hari itu) Kami panggil 
tiap umat dengan pemimpinnya. . . " (QS. Al Israa' : 

71) 

Dan Ahlus sunnah wal Jama'ah mengikuti 
ulama mereka yaitu Thoi£ah Manshuroh yang 
melaksanakan peran Rasulullah SAW didalam 
ummat ini. Maka apabila dikatakan bahwa ahlus 
sunnah (Firqoh Najiyah) adalah Thoifah 
Manshuroh artinya adalah sebagai pengikutnya, 
karena Thoitah ini lebih khusus dari pada Firqoh, 
wallohu 'alam. 

Tujuan dari pembahasan ini adalah hendaknya setiap 
muslim berusaha untuk menjadi Thoi£ah Manshuroh yang 
melakukan pembelaan terhadap dien dengan ilmu, dakwah 
dan jihad, Alloh Ta'ala bertirman : 

" ...dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba- 

lomba" . 

(QS. Al Mutha££i£in : 26) 

Kami katakan : Namun demikian sesungguhnya bisa 
jadi Thoi£ah Manshuroh adalah Firqoh Najiyah secara 
keseluruhan, yaitu nanti pada akhir zaman ketika orang- 
orang mukmin bergabung ke Syam, lalu disanalah turun 
Nabi Isa AS, untuk memerangi Dajjal sebagaimana 
disebutkan dalam hadits-hadits shahih. Beginilah cara 
mendudukkan berbagai riwayat yang menyebutkan bahwa 
Thoi£ah Manshuroh itu berada di Syam atau Baitul Maqdis 

10 



(hadits Abu Umamah) yaitu terjadi pada akhir Thoitah ini 
secara mutlak. 

Sedangkan masa-masa sebelum itu, masa Thoitah ini 
bisa berada di Syam atau selainnya (lihat perkataan 
pengarang Fat-hul Madiij Syarh Kitab Tauhid dalam 
penjelasan hadits Thoitah, cet. Anshorus sunnah, hal. 278- 
279). 



CATATAN : KEWAJIBAN YANG PALING UTAMA / 
PENTING BAGI THOIFAH MANSHUROH PADA 
ZAMAN INI. 



Sesungguhnya diantara kewajiban yang paling 
penting bagi Thoi£ah Manshuroh pada zaman ini adalah 
berjihad melawan penguasa yang murtad, yang mengganti 
syari'at Alloh dan memberlakukan undang-undang kafir 
buatan manusia terhadap kaum muslimin, sebagaimana 
yang dikatakan oleh Ibnu Katsiir dalam menatsirkan tirman 
Alloh Taala : 






"Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki.. . " (QS. Al 

Maaidah : 50) 

"Alloh mengingkari orang yang keluar dari hukum 
Alloh yang mengandung segala kebaikan, melarang segala 
kejelekan, serta berpaling kepada yang lain seperti 
pandangan-pandangan hawa nafsu serta istilah-istilah yang 
dibuat oleh manusia tanpa bersandar pada syari'at Alloh - 

11 



sampai pada perkataannya - barang siapa yang berbuat hal 
itu diantara mereka maka ia telah kafir wajib diperangi, 
sampai mereka kembali kepada hukum Alloh dan RasulNya, 
sehingga tidak ada hukum kecuali hukum Alloh, baik sedikit 
maupun banyak". 

Banyak ulama-ulama masa kini yang telah memberi 
catatan terhadap perkataan Ibnu Katsiir tersebut dengan 
menerangkan bahwa inilah keadaan para penguasa yang 
mengatur kaum muslimin dengan undang-undang buatan 
manusia saat ini. 

Syaikh Ahmad Syaakir Rahimahulloh berkata: 
"Apakah diperbolehkan — dengan ini — didalam syari'at 
Alloh orang-orang muslim berhukum dinegara mereka 
dengan hukum yang diambil dari undang-undang negara 
Eropa yang menyembah patung dan atheis (sekuler)?, 
bahkan undang-undangnya telah dimasuki oleh hawa nafsu 
dan pendapat bathil yang bisa mereka rubah-rubah dan 
diganti semau mereka. Tidak menghiraukan siapa yang 
membuatnya, apakah sesuai dengan syari'at Islam atau tidak 
?", — sampai pada perkataannya — "Sesungguhnya masalah 
undang-undang buatan manusia ini adalah permasalahan 
jelas, sejelas sinar matahari yaitu kuffrun bawwaah (kekatiran 
yang nyata), tidak ada kesamaran dan penutup padanya 
serta tidak ada uzur (alasan) bagi seorangpun yang 
menganut agama Islam — siapapun orangnya — untuk 
mengamalkan atau tunduk kepadanya atau mengakuinya" 
(Umdatut Tafsir Mukhtashar Ta£siir Ibnu Katsiir, karya 
Ahmad Syaakir, cet. Daarul Ma'arif, IV / 173-174) 

Dan Al 'Allaamah Muhammad Haamid Al Fiqi 

berkata, dalam mengomentari perkataan Ibnu Katsiir 
Rahimahullah :"Dan yang seperti ini bahkan yang lebih jelek 

12 



lagi adalah orang-orang yang menjadikan pendapat orang 
eropa sebagai undang-undang untuk sandaran hukum 
dalam masalah darah (nyawa), seks dan harta, dan lebih 
mengutamakannya dari apa yang sudah diketahui dan jelas 
baginya dari kitab Alloh dan sunnah Rasul SAW, orang 
tersebut tidak diragukan lagi murtad, apabila terus 
melakukan hal itu dan tidak kembali kepada hukum yang 
diturunkan oleh Alloh. Dan tidak ada gunanya apapun 
nama yang ia gunakan serta amalan apapun yang ia kerjakan 
dari amalan-amalan yang nampak seperti shalat, shiyam, 
zakat, dan yang semisalnya". (Fat-hul Majiid, cet. 
Anshoorus Sunnah, catatan, 396). 

Muhammad bin Ibrohim Aalu Syaikh Mufti (juru 
fatwa) Arab Saudi terdahulu rahimahulloh berkata: 
"Sesungguhnya berhukum dengan selain apa yang 
diturunkan oleh Alloh adalah kufur akbar keluar dari 
agama pada enam macam keadaan, yang kelima beliau 
menggambarkan keadaan negara-negara kaum muslimin 
pada saat ini dengan secara detil, disana beliau berkata: 
"Yang paling besar dan paling menyeluruh dan yang paling 
jelas pertentangannya terhadap syari'at, kesombongannya 
terhadap hukum-hukum Alloh, pembangkangannya 
terhadap Alloh dan rasulNya, persaingan terhadap hukum- 
hukum syar'i dari persiapan-persiapan dukungan, 
pengawasan dan pengukuhan baik dari sisi 
pembentukannya, keragaman dan ketetapannya serta 
komitmen, juga dari segi reterensi dan sandaran. 
Sebagaimana pengadilan-pengadilan syar'i memiliki 
reterensi dan sandaran yang semuanya bersumber dari kitab 
Alloh dan sunnah RasulNya begitu juga pengadilan tersebut 
juga memiliki beberapa reterensi diantaranya : 



13 



Undang-undang yang dibuat dari berbagai macam 
syari'at dan undang-undang seperti undang-undang 
Perancis, undang-undang Amerika, undang-undang Inggris 
dan undang-undang lainnya, serta berbagai pandangan- 
pandangan ahlul bid'ah yang menyandarkan dirinya kepada 
syari'at dan yang lainnya. 

Mahkamah ini tersedia secara sempurna diberbagai 
wilayah-wilayah ummat Islam dibuka pintunya lebar-lebar 
sedangkan manusia berbondong-bondong untuk 
mendatanginya, para penguasanya menghukumi mereka 
dengan hukum-hukum yang menyelisihi Al Qur'an dan As 
Sunnah yaitu dengan hukum-hukum dan undang-undang 
tersebut dan mengharuskan mereka untuk mengikutinya, 
diterapkan baginya serta diwajibkan untuk berhukum 
dengannya. Maka kekuturan apakah yang lebih tinggi dari 
kekuturan ini, dan perbuatan apa yang lebih membatalkan 
terhadap kesaksian bahwa Muhammad adalah Rasulullah, 
yang melebihi perbuatan ini." (Risaalah Tahkiimul 
Qowaaniin). 

Inilah beberapa pendapat ahlul ilmu (ulama) 
mengenai penguasa-penguasa hari ini. Adapun kewajiban 
kaum muslimin terhadap penguasa yang murtad, adalah 
sebagaimana perkataan Al Qoodhii Tyaadh Rahimahullah : 
"Apabila terjadi kekuturan atau perobahan syari'at atau 
terjadi bid'ah maka gugurlah kepemimpinannya dan 
gugurlah kewajiban taat kepadanya, dan wajib bagi kaum 
muslimin bangkit mencopot dan mengangkat Imam yang 
adil. Apabila tidak ada yang bisa melaksanakannya kecuali 
sekelompok orang maka wajib bagi kelompok tersebut untuk 
mencopot penguasa kafir tersebut. Namun hal ini tidak 
wajib dilakukan terhadap imam yang berbuat bid'ah kecuali 

14 



kalau diperkirakan mampu untuk melakukannya, apabila 
tidak mampu untuk melakukannya / melaksanakannya 
karena lemah maka tidak wajib untuk melaksanakannya 
namun hendaknya setiap muslim berhijrah dari negerinya 
untuk menyelamatkan diennya ketempat yang lain. (Sohiih 
Muslim Bisyarh An Nawawiy, Kitaabul Imaaroh, XII /229). 

Dan telah kami sampaikan sebelumnya perkataan 
Syaikhul Islam Imam Ibnu Taimiyyah: "Sebagaimana wajib 
melakuka i'dad untuk jihad dengan mempersiapkan 
kekuatan dan kuda-kuda perang, disaat dalam keadaan 
lemah, karena sesungguhnya jika suatu kewajiban tidak bisa 
dilaksanakan kecuali dengan sesuatu sarana maka sarana itu 
menjadi wajib." (Majmu' Fatawa, XVIII / 259) dan tirman 
Alloh Taala : 

U 'A ulpt 



"Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja 
yang kamu sanggupi.. . " (QS. Al Anf aal : 60) 

Mereka mempersiapkan diri untuk berjihad melawan 
orang-orang murtad itu adalah kewajiban yang paling wajib 
bagi kaum muslimin pada hari ini khususnya karena tidak 
ada tempat yang sesuai untuk berhijrah, dan hijrah bukanlah 
hal yang mudah bagi mayoritas kaum muslimin disebabkan 
keadaan pribadi mereka, negeri mereka, sistem yang berlaku 
dinegara mereka. 

Inilah pembahasan yang berkenaan dengan kewajiban 
terbesar bagi Thoi£ah Manshuroh pada zaman ini. 

Permasalahan ini, yaitu katirnya para penguasa yang 
berhukum dengan syari'at Islam serta kewajiban 
memeranginya — menurutku bahayanya — menyerupai 

15 



pemurtadan yang terjadi setelah watatnya Nabi SAW, 
karena sesungguhnya masalah ini mengancam mayoritas 
kaum muslimin dan generasinya dengan pemurtadan yang 
menyeluruh. Apabila mereka dibiarkan seperti itu dengan 
kerusakan dan pengerusakan yang dilakukan oleh penguasa 
tersebut, mereka rubah syari'at dan sebarkan perbuatan- 
perbuatan keji dikalangan kaum muslimin. Seandainya para 
sahabat hidup pada hari ini niscaya amal mereka yang 
paling utama adalah memeragi para penguasa tersebut. 
Selain itu titnah yang ditimbulkan oleh masalah ini melebihi 
dari titnah yang ditimbulkan oleh masalah khalcjul qur'an 
(pendapat bahwa Al qur'an adalah makhluq). 

Dan kami berpendapat tidaklah seorangpun yang 
memiliki ilmu syar'i pada zaman kita ini yang tidak 
membicarakan masalah ini — dengan cara mengingkari dan 
menghasung kaum muslimin untuk berjihad — kami 
berpendapat orang yang seperti ini tidak bertemu dengan 
Alloh, kecuali Alloh akan murka terhadapnya, Alloh Ta'ala 
bertirman : 

S s fl -i yj 

lyJLUtj I^IJ <£& ^lOOjlpiil jUiJjj Aiil L&L liijl yli^Il 

()j^J! 4^1 Ijtj ^Ip L>$\ ^jijt Ijlij 

" Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang 

telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yangjelas) 

dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia 

dalam Al Kitab, mereka itu dilanati Alloh dan diWnati (pula) oleh 

semua (makhluk) yang dapat melanati, kecuali mereka yang telah 

taubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), 



16 



maka terhadap mereka itu Aku menerima taubatnya dan Akulah 

Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang" . (QS. Al 

Baqarah : 159-160) 

Maka seorang alim dituntut oleh syar'i untuk 
menerangkan kebenaran yang seharusnya dilakukan dalam 
keadaan seperti ini sebelum dia ditanya, berdasarkan tirman 
Alloh Taala : 



ft& fi% f> U $ IjJUJ $ 



"Katakanlah: "Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu 
oleh Tuhanmu, ..." (QS. Al An 'aam : 151) 

Seorang alim juga, dituntut untuk menyatukan 

manusia berdasarkan rirman Alloh Ta'ala (lj**2) untuk 

memahamkan pada mereka mana yang haq dan mana yang 
bathil. 

Al Qurthubiy berkata dalam menatsirkan ayat ini: 
"Dan beginilah kewajiban orang-orang hidup setelah nabi 
SAW dari kalangan ulama untuk menyampaikan kepada 
para manusia dan menerangkan kepada mereka apa-apa 
yang diharamkan dan apa-apa yang dihalalkan bagi mereka, 
Alloh Ta'ala bertirman : 

"Untuk menerangkan pada manusia dan jangan disembunyikan' 

(QS. Ali Imraan : 187) 

(Taf siir Al Qurthubiy VII / 131) 

Saya katakan dan tidak boleh ditangguhkan 
keterangan diwaktu dibutuhkan, jika ada seorang alim yang 

17 



berkata: "Aku takut terhadap manusia" maka sesungguhnya 
Alloh Ta'ala bertirman : 

^jCu»l» X*& 0} &l^J£- 01 Jp-' ^J-!*-* ^_gJ LliJ^-1 

". . .Mengapakah kamu takut kepada mereka padahal Alloh-lah 

yang berhak untuk kamu takuti, jika kamu benar-benar orang yang 

beriman." (QS. At Taubah : 13) 

Ayat ini berkenaan dengan para ulama yang berdiam 
diri, lalu bagaimana dengan ulama-ulama yang 
bermudaahanah (kompromi)?, bagaimana dengan ulama yang 
membela mereka ?, Alloh Ta'ala bertirman : 

• *°. >S\ >t°. >*!-■:- > -- 

" . . .Barangsiapa di antara kamu berwala' (loyal) kepada mereka, 
maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. . . " (QS. 

Al Maa-idah : 51) 



Diterjemahkan dari Buku Al 'Umdah Fii Tdaadil 
'Uddah Lil Jihaadi Fii Sabiilillaah, Syaikh 'Abdul Qoodir 
bin 'Abdul 'Aziiz, hal. 130-138. 



18 



Perhatian: 
Dipersilahkan kepada siapa saja untuk 
memperbanyak atau menukil isi buku ini baik 
sebagian maupun secara keseluruhan dengan 
cara apapun, tanpa merobah isinya. Semoga 
Alloh memberi balasan kepada siapa saja yang 
membantu tersebarnya buku ini 




Sediaan unduh dari 



JAHIZUNA 



jrhn 



Bckal i nsprrasT taum beriman 



http://www.jahizuna.com 



iq